Sabtu 13 Nov 2021 14:48 WIB

BBMKG: La Nina tidak Berdampak Signifikan di Sumut

Masyarakat Sumut tidak perlu panik La Nina dengan potensi peningkatan curah hujan.

Awan hitam menyelimuti langit Jakarta, Kamis (4/11/2021). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi curah hujan yang tinggi dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis di sejumlah daerah akibat adanya fenomena La Nina yang di prediksi akan berlangsung dari akhir tahun hingga Februari 2022.
Foto: Antara/Galih Pradipta
Awan hitam menyelimuti langit Jakarta, Kamis (4/11/2021). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi curah hujan yang tinggi dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis di sejumlah daerah akibat adanya fenomena La Nina yang di prediksi akan berlangsung dari akhir tahun hingga Februari 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah 1 Medan menyebutkan, La Nina tidak berdampak secara signifikan pada wilayah Provinsi Sumatra Utara (Sumut). Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hartanto, mengatakan, masyarakat Sumut tidak perlu panik kehadiran La Nina dengan potensi peningkatan curah hujan yang tinggi dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.

"Karena wilayah Sumatra Utara tidak berdampak secara langsung," kata Hartanto di Medan, Sabtu (13/11).

Hartanto menjelaskan, La Nina merupakan fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin dan mengalami curah hujan lebih tinggi. La Nina terjadi ketika suhu muka laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal.

Ia menambahkan, La Nina pada umumnya berdampak pada risiko meningkatnya peluang bencana hidrometeorologi akibat curah hujan tinggi, seperti banjir, longsor, banjir bandang, pohon tumbang, dan lain sebagianya. "Jadi dapat disimpulkan La Nina itu bukan badai tropis atau topan besar," katanya.

Hasil kajian BMKG menunjukkan curah hujan meningkat di bulan November, Desember, Januari, dan Februari. Untuk itu masyarakat diharapkan untuk lebih waspada akibat adanya peningkatan tersebut.

"Wilayah yang perlu di waspadai adalah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan," demikian Hartanto.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement